Kamis, 31 Desember 2009

Ekonomi Politik Media (Seri Belajar)

Bila kemarin saya tidak memiliki ide sama sekali untuk dituliskan atau keadaan lainnya, ide yang tetap hadir, tetapi menuliskannya menjadi sebuah tulisan yang utuh, sulit sekali saya lakukan. Hari ini keadaannya sedikit berbeda, ada satu hal di kepala saya yang sudah saya “tuntaskan” dengan menuliskannya. Ada dua hal lain yang sebenarnya mengganggu pikiran saya sejak lama: bagaimana membuat proses pembelajaran menjadi menarik? Proses pembelajaran yang membuat semua partisipannya tergugah dan antusias mengikutinya. Mungkin dengan membuat tulisan-tulisan sedikit “konseptual” dapat membantu proses pembelajaran tersebut.

Hal yang lain adalah keprihatinan saya, mungkin juga agak sedikit cemas, sampai sekarang saya sering mendapatkan sebuah pertanyaan. Pertanyaan tersebut terutama berasal dari pembelajar tingkat akhir yang tinggal mengerjakan skripsi. Sebuah pertanyaan yang umum sekaligus sebenarnya menunjukkan si penanya kurang mendalami ilmu yang dipelajarinya.

Pertanyaan itu adalah: apa yang harus diangkat dalam riset untuk skripsi. Awalnya pertanyaan ini sungguh absurd bagi saya karena semestinya topik untuk skripsi seharusnya sudah dirintis sejak awal, bukannya pada “detik-detik” terakhir sebelum rencana judul dikumpulkan.

Menurut saya, pertanyaan tersebut merupakan suatu yang “aneh” karena sebenarnya banyak sekali hal yang bisa diteliti. Hal yang diteliti itu hampir tak terbatas, mulai dari fenomena komunikasi tanpa media, sampai dengan komunikasi melalui media. Itu pun masih diperluas lagi: pada fenomena berkomunikasi dengan menggunakan media misalnya, bisa kita pilah media “lama” dan media “baru”. Media baru adalah area yang masih sangat luas untuk diteliti dan dekat dengan kehidupan sehari-hari pembelajar sehingga relatif mudah untuk didedah.

Fenomena media dalam kehidupan sehari-hari bukan kepalang banyaknya. Tentu saja kita lebih terterpa dengan fenomena bermedia yang umum, semisal pemberitaan televisi mengenai kasus terorisme, diberlakukannya UU Perfilman terbaru, penolakan RUU Rahasia Negara, komodifikasi pesan media berkaitan dengan bulan Ramadhan, dan masih banyak lagi.

Juga fenomena media yang kurang mendapat perhatian karena dampaknya dianggap tidak terlalu besar, misalnya, seperti yang saya lakukan, mengamat-ngamati pesan dalam album musik populer, buku fiksi remaja, dan kemunculan zine dalam berbagai komunitas. Hal-hal lain yang dianggap kurang “serius” karena berada di luar mainstream pembicaraan politik dan sosiologi.

Selain menjelaskan fenomena media tadi, baik teks, organisasi, maupun konteks, kita juga dapat melihat berbagai fenomena tersebut dari banyak perspektif. Perspektif itu adalah cara pandang kita untuk melihat fenomena. Perspektif bisa dipilih salah satu atau beberapa tanpa menafikkan satu sama lain.
Untuk sekadar melihat fenomena media dan “berlatih” menggunakan salah satu perspektif, yaitu perspektif ekonomi politik, saya mencoba mengamati salah satu fenomena media di bulan Ramadhan kemarin. “Percobaan” ini semuanya menggunakan “pisau analisis” yang diangkat oleh Vincent Mosco di dalam bukunya “Polical Economy of Communication”. Salah satu buku klasik dalam bidang ekonomi politik media.

Eksplanasi fenomena media berperspektif ekonomi tersebut menggunakan urutan berikut ini: level obyek, karakter ekonomi politik media, dan terakhir, tiga analisis ekonomi politik media.
Fenomena media yang dipilih adalah fenomena lagu religi yang muncul selama Ramadhan. Sementara kasusnya adalah majalah remaja HAI yang memberikan “bonus” CD audio kompilasi lagu religi tersebut.
Melalui level fenomena media, kita dapat mengetahui bahwa fenomena media itu meliputi keseluruhan level. Dalam kasus ini, kita dapat melihat bahwa kompilasi album religi adalah salah satu pesan media (musik rekaman). Majalah HAI dan juga majalah remaja yang lain adalah level organisasi media karena mereka-lah yang memproduksi pesan. Sementara konteks atawa level makro dapat dilihat dari peristiwa Ramadhan, “habitat” utama di mana lagu-lagu religi berada.

Selain itu, kita juga merujuk pada karakter ekonomi politik untuk mendedah fenomena album religi ini. Pertama, kita melihat perubahan sosial dan transformasi historis dari lagu-lagu religi di Indonesia. Semisal, musik lagu religi yang lebih beragam sekarang ini ataupun konvergensinya dengan pesan media yang lain sebagai akibat kemajuan teknologi.

Karakter kedua adalah totalitas dari relasi sosial. Karakter ini berguna untuk menjawab dalam konstelasi kepentingan seperti apa album musik religi muncul? Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana ragam kepentingan tadi menghablur ke dalam pesan media, bahkan mungkin sampai dengan lirik lagu yang ditawarkan.

Berkomitmen pada filsafat moral, yaitu memiliki ketertarikan atas nilai-nilai sosial dan prinsip-prinsip moral, adalah karakter ketiga. Dalam bahasa awam filsafat moral disebut dengan kepentingan publik. Bagaimana fenomena ini berpengaruh terhadap kepentingan publik? Merugikankah, atau menguntungkan? Bila sudah ditemukan, pertanyaan lanjutannya adalah bagaimana hal yang menguntungkan/merugikan itu terjadi?

Karakter terakhir adalah bahwa fenomena di dalam ekonomi politik ada di dalam “praksis sosial”. Artinya, fenomena tersebut memang terjadi dalam realitas. Sebagai pembelajar ekonomi politik, kita harus memahami bahwa hal yang seharusnya bukanlah aspek yang utama. Kita harus mendapatkan data yang relatif memadai mengenai produksi album religi dalam beberapa tahun terakhir ini.
Data dari media biasanya merupakan bagian yang sulit didapat karena ada semacam pandangan bahwa “produk” media itu milik media sendiri. Padahal, bila telah didistribusikan pada masyarakat, pesan media tadi telah menjadi milik publik.

Konsep teoritik berikutnya adalah “aktivitas” ekonomi politik, yang juga merupakan “pintu masuk” untuk menjelaskan fenomena dengan lebih mendalam. Ada tiga “pintu masuk” untuk menjelaskan fenomena ekonomi politik media atau komunikasi menurut Mosco, yaitu: komodifikasi, spasialisasi, dan strukturasi. Pertama, komodifikasi adalah transformasi nilai guna menjadi nilai tukar. Konsep ini sebenarnya juga melekat pada dua konsep yang lain sehingga perlu dijelaskan lebih dahulu.
Komodifikasi seringkali disamakan dengan pengertian komersialisasi, walau pengertiannya tidak benar-benar sama. Komersialisasi adalah transformasi nilai guna menjadi nilai tukar ekonomi, sementara komodifikasi jauh lebih luas.

Aktivitas kedua adalah spasialisasi. Spasialisasi dapat diartikan sebagai proses media menaklukkan ruang dan waktu. Bagaimana awalnya, pesan media recording “meluas” berkaitan dengan pesan majalah. Juga bagaimana majalah (remaja) dengan beragam kepentingan tertentu “menempelkan” pesan media recording di dalam salah satu edisinya.

Uniknya, kompilasi lagu religi ini tidak menjadi bonus pada majalah HAI sebelumnya, yang justru mengulas panjang lebar mengenai musik religi. Pada edisi di mana terdapat bonus album kompilasi ini, edisi 7 -13 September 2009, pembicaraan utama majalah adalah pesan fiksi Indonesia, contohnya komik dan cerpen.

Aktivitas terakhir dalam wilayah ekonomi politik adalah strukturasi. Strukturasi adalah (pesan) media yang dipengaruhi oleh agen dan struktur. Bagaimana struktur produksi dan distribusi mempengaruhi pesan media. Dalam hal ini, bagaimana produksi dan distribusi majalah dan juga musik rekaman mempengaruhi isi pesan album religi tersebut. Begitu juga sistem yang lebih luas, bagaimana industri media berpengaruh pada isi media tersebut.

Oke deh, sebagai penutup, saya hanya bisa bertanya: tulisan ini terlalu sederhana atau terlalu sulit ya? pihak nyang bisa menjawab adalah para pembelajar ilmu komunikasi yang kebetulan membaca tulisan ini. Harapannya sih, tulisan ini bisa membantu pembelajar yang ingin mengetahui tentang “ekonomi politik media”, yang secara sengaja hanya saya ambil dari satu sumber. Sebenarnya, masih banyak sumber lain yang bisa kita elaborasi dan kita lekatkan pada telaah ekonomi politik.
Akhirnya, hal terpenting bagi pembelajar, menurut saya, adalah selalu mencoba untuk “berlatih” agar menjadi semakin terbiasa berpikir dan menyampaikannya dengan lebih terstruktur. Hehe…bukankah “struktur” dan “hirarki” konsep adalah karakter yang membuat taksonomi kelimuan bisa diejelaskan?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar